Cerita ini adalah awal mula diriku harus belajar tentang keikhlasan dan rasa sukur akan qodo dan qodar Gusti Allah SWT
Tepat pada tanggal 27 Januari tahun 2021, ketika subuh kereta kahuripan yang aku naiki berhenti di sebuah stasiun. Diroku waktu itu belum tau nama stasiun apa ini, samar - samar aku lihat dari balik jendela, terlihat tulisan Cipeundey. Dengan mata yang masih mengantuk, suara pedagang bersaut - sautan menawarkan cilok, siomay, chuangki, tahu, lontong, kopi dan jajanan lain. Jujur waktu itu aku melafadzkan istighfar dalam hati, dan mencoba bersyukur atas pekerjaan yang akan aku dapatkan.
Kereta berhenti di Stasiun Kiaracondong, dan langkah ini melanjutkan menuju Kantor Wilayah Kementerian Agama yang selanjutnya aku naik kereta Serayu untuk sampai di Stasiun Cibatu. Di kota Cibatu inilah aku mendermakan diri, mengabdi kepada sebuah lembaga, susah dan lelah tetap aku jalani dengan syukur dan ikhlas. Entah langkah kedepannya seperti apa, apakah pindah tugas ke kampung halaman atau ganti profesi jadi petani, peternak atau orang yang berbicara dengan tanaman. Yang jelas, qodo dan qodar Gusti Allah Ta'ala haru aku jalani dengan penuh rasa syukur sembari mengharap ridhonya.
Kembali lagi ke Stasiun Cipeundey, ternyata stasiun ini adalah stasiun sakti di Daop II (Bandung dan sekitarnya). Dimana semua kereta entah apapun kelasnya wajib berhenti sepuluh menit untuk pengecekan rem. Jalan terjal yang dilalui, membuat semua kereta wajib berhenti baik yang kearah timur maupun barat. Stasiun inipun menjad stasiun ketiga tertinggi di Indonesia khusunya di Daop II setelah Stasiun Nagreg dan Stasiun Lebak Jero yakni dengan ketinggan 772 Mdpl.
Diriku tidak menyangka, Stasiun yang dulu aku abaikan ini, karena banyaknya pedagang yang menawarkan dagangannya menjadi stasiun yang harus aku singgahi setiap Jum'at dan Senin. Sekarang aku menjadi kaum PJKA (pulang Jum'at kembali Ahad) hanya untuk bertemu dengan keluarga di akhir pekan, dan bekerja kembali dengan rasa kantuk dan lelah di hari Senin. Aku juga tidak menyangka setiap kali singgah, seakan wajib bagiku untuk membeli jajanan yang tersedia disini. Selain karena memang rasanya enak, membeli jajanan di Stasiun Cipeundey ini seakan menjadi ritual sebelum aku naik kereta.
Setelah beberapa tahun ini, rasa ibaku terhadap pedagang di Stasiun Cipeundey rasanya hilang. Karena aku yakin, penghasilan mereka jauh lebih banyak daripada diriki yang kaum umbies ini. Walaupun aku berusaha merasa bersyukur, tapi jika harus lelah dalam perjalanan dan pekerjaan serta beban psikis dan mental, sepertinya aku harus banyak belajar untuk menerima dan mengimani qodo dan qodar.
Hari inipun sepertinya aku harus banyak belajar, pada hari Jum'at 24 Juli 2026 ini aku hampir saja ketinggalan kereta. Pasca Sholat Isya aku tertidur, rasa lelah dan kantuk tidak bisa aku tahan lagi, aku terbangun pukul 21.30, tanpa mandi dan merapihkan kamar kosanku langsung aku gas motor Honda Revo legend ku untuk meliuk - liuk dari Cibatu ke Cipeundey. Setelah berhasil melewati medan naik turun dan bersalip dengan truk dan bis malam, akhirnya aku sampai di Cipeundey dengan selamat dan bertepatan dengan kedatangan Kereta Kutojaya Selatan. Aku beli air mineral, pisang ambon dan cilok, sebagai ritual wajib sebelum naik kereta. Dengan rasa terkantuk - kantuk aku mencoba menulis dan akhirnya kereta ini sampai di Stasiun Tasikmalaya, masih jauh sebelum sampai ke tujuanku Stasiun Gombong.
Dan akhirnya, tulisan ini aku buat, sebagai penanda aku menulis lagi dengan blog yang baru. Semoga aku kembali menjadi manusia yang rajin menulis, sambil terus bersyukur dan bahagia serta terus belajar mengimani qodo dan qodar Gusti Allah Ta'ala.
Stasiun Tasilmalaya Jum'at 24 Juli 2026
Dari Kereta Kutojaya Selatan
Ditulis oleh Eko Siam Muwardi
pecinta kereta api yang selalu rindu dengan kampung halaman | Guru Madrasah sing gawene nulis - nulis ora nggenah