Ini Cerita dan nostalgia, kita mengenang dulu upacara agustusan yang pernah kita lalui, betapa bahagianya dulu menyambut agustusan dan betapa antusiasnya dulu ikut upacara agustusan.
Pagi itu, aku dikejutkan dengan sebuah postingan di twitter dimana seseorang membuat kicauan “merdekao dewe, aku tak turu” terjemah dalam Bahasa Indonesia tidak lebih adalah merdekalah sendiri, aku mau tidur. Entah kenapa pemuda ini membuat kicauan seperti ini, apakah haknya dirampas atau negara belum hadir dalam kesejahteraannya. Entah apapun itu, saya hanya bisa berdoa semoga dirinya baik – baik saja dan semoga negara yang aku cintai ini bisa lebih adil dan makmur di umur kemerdekaan yang ke 81 sesuai cita – cita proklamator.
Saya membaca postingan itu ketika saya menunggu istriku di depan ruang bimbingan konseling (BK) ketika istriku harus mengurus administrasi ke ruang guru, saya lebih memilih menunggu di depan ruang BK yang lebih representative dan ramah dengan tamu. Ditengah lalu Lalang dan hiruk pikuk siswa dan guru yang hendak persiapan upacara, aku buka handphoneku dan seketika munculah cuitan itu. Tanpa berlama – lama membaca reply yang penuh dengan keluh kesah terhadap negara, saya membuka facebook yang menurutku lebih bersahabat. Melihat postingan bapak – bapak facebook pro yang atusias upacara, saya melihat beberapa meme segar yang mampu menghibur diriku dalam kesendirian di depan ruang BK.
Tak lama istriku datang, beliau berkata upacaranya dipindah ke lapangan Desa Semanding. Memang ini adalah upacara pertamaku di Kota Gombong (lebih tepatnya disebut Kecamatan). Sejak aku TK SD dan SMP upacara selalu di sekolah dan sesekali aku upacara di Lapangan Kecamatan Buayan. Saat aku SMA aku upacara di sekolah atau di Alun – Alun Kecamatan Karanganyar. Ketika aku kuliah di UNY aku jarang sekali upacara Agustusan kecuali pas KKN, sering kali aku upacara hari Pendidikan Nasional sekaligus menerima penghargaan mahasiswa berprestasi kala itu. Sejak bekerja sebagai Guru aku selalu upacara di tempat diriku bertugas, khususnya ketika sudah mengabdi di Cibatu sudah 5 kali rasanya aku upacara di Alun – alun Kecamatan Cibatu dan akhirnya di tahun ini aku bisa upacara di Kecamatan Gombong.
Berbekal map presensi akhirnya aku dan istriku didampingi waka kurikulum berserta murid satu kelas bertolak ke Lapangan Desa Semanding. Memang berat di hati, khususnya bagi para murid, ketika upacara di sekolah sudah hampir selesai, kami harus upacara di luar dengan durasi yang lebih lama. Taoi, apa boleh buat tugas adalah tugas, ini hanya sebagian kecil dari kecintaan kami pada negara yang tercinta ini dan sedikit bentuk rasa syukur karena kita telah menjumpai masa yang merdeka.
Setelah aku upacara, rasanya pikiran ini langsung nostalgia ke upacara agustusan yang pernah aku alami selama ini. Mungkin tidaklah istimewa karena bukan upacara di Istana Negara atau kantor pemerintahan, tetapi yang Namanya bersyukur tetaplah harus kita panjatkan.
Seperti yang kita rasakan Bersama vibe atau romansa yang paling indah dalam menyambut agustusan adalah ketika kita masih di sekolah dasar. Saya juga sepakat demikian, sepertinya upacara yang paling indah terkait agustusan adalah ketika masih di zaman SD. Di zaman SD upacara pilihannya kalua tidak di sekolah ya di Lapangan Kecamatan Buayan. Masih ingat dulu lebih gembira rasanya jika upacara di Lapangan Kecamatan, selain karena bertemu dengan banyak orang, melihat parade drumd band, jajan disekitar lapangan dan melihat gagahya pasukan pengibar bendera, setelah itu kami pulang naik mobil colt (mini bus). Setelah kami pulang, bisanya sudah disiapkan nasi bungkus, walau lauknya sederhana, tapi saat itu rasanya sangat enak. Menu dan rasa mungkin sama, tapi lidah sudah mulai menua sehingga makanan yang sama tidak sneak dulu.
Beralih ke zaman SMP dimana masih sama upacara di sekolah atau di lapangan kecamatan. Upacara jika dilakukan di lapangan kecamatan kami harus berjalan kaki dibelakang barisan drumb band. Jarak cukup jauh dan memang melelahkan, tapi entahlah zaman dulu rasanya senang – senang saja. Melihat banyak orang, merasakan suasana yang berbeda dan merasa menjadi orang penting karena upacara di lapangan kecamatan.
Zaman SMA tahun pertama aku upacara ketika sedang dalam kondisi puasa, di Alun – alun Karanganyar. Panas dan terik, tapi anehnya zaman dulu rasanya juga senang – senang saja. Kelas XI saya masih ingat upacara di sekolah dan sudah tidak bertepatan dengan bulan puasa. Paling unik menurutku adalah saat kelas XII ketika saat itu entah apa alasan dan sebabnya kelasku ditunjuk sebagai tim paduan suara. Setelah latihan beberapa hari akhirnya suara kamipun didengar oleh segenap peserta upacara di Alun – alun Karanganyar. Rasanya suaraku tidaklah merdu dan cenderung sumbang, tapi ya zaman dulu kami senang – senang saja terutama pas dapat nasi padang hahahahaha. Iya begitulah zaman sekolah dulu.
Oiya satu kisah lagi, ketika awal – awal aku masuk SMA kebetulan aku di Karanganyar dan beberapa sahabatku di Gombong. Ketika kami ngobrol terkait letak upacara, aku bertanya kepada sahabatku yang di Gombong karena menanyakan dan benar – benar tidak tahu dimana letak Lapangan Selogiri. Sahabatku waktu itu menjawab, kamu sebagai orang Gombong walaupun sekolah di Karanganyar harus tetap tahu dan jangan melupakan daerah Gombong. Hehehe iya tentu diriku tidak akan lupa dan terus mencari tau agar setiap sudut kota Gombong, Karanganyar dan Kebumen dapat aku ingat dan tidak aku lupakan.
sumber gambar: Goodnews From Indonesia
Ditulis oleh Eko Siam Muwardi
pecinta kereta api yang selalu rindu dengan kampung halaman | Guru Madrasah sing gawene nulis - nulis ora nggenah